“Satu-satunya kelemahan yang harus dibenahi adalah kesombongan intelektual. Tidak semua orang terlahir untuk jadi ahli matematika, tetapi semua orang bisa belajar berhitung apabila punya niat.” (Rene Suhardono)
Sejujurnya di kampus saya pun, kesombongan intelektual, secara samar maupun terang-terangan, banyak saya temukan di berbagai kalangan: mahasiswa, residen, konsulen, hingga guru besar.
hari ini aku terlambat makan. sengaja. sedari pagi menanti janji itu cukup menghapuskan makan dari prioritas kebutuhan, karena memang selera makanku hilang. setelah harap-harap cemas dan janji terpenuhi, tidak menyangka justru datang pasien ingin ditambal giginya. jamnya sudah tidak memungkinkan untuk istirahat, jadi aku kerjakan saja. pukul setengah empat, tambalan dia selesai. aku berbenah dan menunggu kawan-kawan yang lain untuk makan siang bersama. tak apalah makan sekali untuk dua waktu, sarapan dan makan siang.
aku bersama rere dan chika akhirnya ke bu rum, tempat makan siang yang paling favorit. Ayam geprek, cabe 5 saja kali ini karena seharian perut belum terisi. setelah terlayani, aku mengambil tempat duduk di dekat empat anak muda yang sedang asik bercengkrama. salah satunya, dugaanku, adalah seorang fresh graduate dari fakultas kedokteran.
gaya bicaranya jumawa, nadanya sok, khas anak-anak baru lulus. tapi yang satu ini sungguh keterlaluan. volume suaranya jelas diperkeras dengan sengaja, melihat aku dan kedua temanku duduk rapi dengan sepiring nasi dan ayam geprek kami. dia asik bercerita tentang darah, mayat kecelakaan, herpes, dan istilah-istilah kedokteran lain yang dia pikir dengan bicara itu pasti menunjukkan kehebatannya. sungguh betapa saat itu ingin kusumpal mulutnya dengan sepiring ayam geprek super pedas ini. bukan karena jumawanya, itu adalah hal yang paling kumaklumi. tapi karena dia membicarakan mayat dan lain-lain itu di rumah makan. dalam kondisi aku kelaparan. hilang sudah rasa laparku ditelan kearogansiannya.
KAMPRET!
itu umpatku. tak berani keras-keras.
aku sengaja berdeham. tapi dia makin seru, serasa sedang disemangati.
KAMPRET!
aku mengumpat lagi. aku melirik jengkel ke arah empat pemuda ini, salah satunya ada yang merasa, tapi dia tak berani menyetop pembicaraan temannya yang jumawa.
aku yakin aku bisa saja melabrak dia. sudah beberapa kalimat yang berjajar rapi di mulutku, siap untuk kuucapkan. tapi aku masih menyandang nama almamaterku, malu. belum lagi nama ayah ibuku di dahiku. kutelan lagi kata-kata itu.
aku berdeham lagi. kali ini lebih keras. rere sampai bertanya, kalau-kalau aku kepedesan. aku berkata dengan volume sedang, bukan kepedesan, tapi jijik.
keempat pemuda itu akhirnya pergi. meninggalkanku dengan sepiring ayam geprekku yang pedas serta imajinasi bentuk mayat kecelakaan.
KAMPRET!
aku mengumpat sekali lagi.
hilang sudah kenikmatanku makan. aku heran dan bertanya-tanya, kuliah dimana dia? semacam tidak pernah diajari kode etik. eh, kode etik kedokteran kuyakin dia belajar. tapi dia tidak belajar etika pergaulan dari masyarakat.
dia, entah siapapun dia, adalah (calon) dokter yang tidak punya kecerdasan sosial. semoga dia bisa belajar nanti selama koas tentang etika pergaulan dalam masyarakat. supaya tidak jadi dokter arogan yang tuli mata hatinya. macam sampah saja di dunia medis.
super sekali senior saya ini cc @belindch :B
Nauzubillah, semoga kesombongan mejauh dari diri. :’(
“Satu-satunya kelemahan...kesombongan intelektual. Tidak semua orang terlahir