Kuntawiaji

month

March 2010

Mar 31, 20102,509 notes
“Beauty is not in the face. Beauty is a light in the heart.” —Kahlil Gibran
Mar 31, 20108 notes
#beauty
“Success is not the key to happiness. Happiness is the key to success. If you love what you are doing, you will be successful.” —Albert Schweitzer
Mar 31, 2010824 notes
#success #happiness
Mar 30, 201031 notes
#work
“In life, there are four things you can’t get back: the stone after the throw, the word after it’s said, the action after it’s done, and the time after it has passed. So, be careful of what you throw, of what you speak, of what you do, and of what you let pass by.” —
Mar 30, 2010397 notes
#life
Mar 30, 201022 notes
“Sometimes people are beautiful. Not in looks. Not in what they say. Just in what they are.” —I Am The Messenger, Markus Zusak
Mar 28, 2010140 notes
#beautiful
Play
Mar 27, 20102 notes
#chrisye #damai bersamaMu
Chelsea Olivia

’’UMUR’’ bintang akting Indonesia makin pendek. Bintang-bintang baru, cantik, muda, dan berbakat datang silih berganti seperti tak ambil peduli pada nasib para senior. Jika ingin bertahan, bintang senior harus punya poin lebih. ’’Nilai’’ plus itulah yang kini dieksplorasi oleh Chelsea Olivia agar tak tersingkir.

Chelsea memang masih muda, baru 16 tahun. Dia belum lama menjejakkan kaki di pentas akting. Baru sekitar tiga tahun belakangan, namanya ngetop. Namun Chelsea sudah ancang-ancang karena melihat begitu banyak ’’ancaman’’. ’’Banyak bintang indo yang fresh. Untuk bertahan, ya harus punya kualitas. Kalau kita berakting maksimal, pasti akan dihargai,” katanya.

Kehadiran bintang belia ini cukup menyentak pentas sinetron Indonesia. Peran sebagai Sasta dalam sinetron Cincin dan Nayla dalam Buku Harian Nayla membuatnya menjadi the rising star. Dulu dia bergabung dengan Sinemart kini hijrah ke MD Entertainment. ’’Masalahnya bukan karena honor. Yang penting, nyaman,” ujar Chelsea.

Di bawah MD Entertainment, dia menjalani syuting sinetron kejar tayang berjudul namanya sendiri. Sinema SCTV tersebut menggantikan sinetron Azizah yang tayang tiap hari pukul 20.00 - 21.00.

Dalam Chelsea, dia beradu akting dengan wajah baru, Fendy Heryanto dan Shandy Ishabella. Dia memerankan tokoh Chelsea yang polos dan periang meski tinggal di gubuk kumuh saking miskinnya. Itu artinya, dia tak bisa tampil cantik di depan kamera. Namun peran tersebut justru tak membuatnya mundur.

Baginya, peran kumuh tak masalah. Dia menambahkan, dalam akting, penampilan memang penting. ’’Tetapi itu tak berarti jika pemain tak bisa berakting bagus sesuai dengan tuntutan cerita,” kata gadis kelahiran Bandar Lampung, 20 Juli 1992.

Chelsea menerima tawaran sinetron Chelsea setelah menuntaskan syuting film Summer Breeze. Awal Mei, film yang dia bintangi bersama si kembar Marcel dan Mischa Chandrawinata dirilis. ’’Ceritanya asyik,” promo gadis yang memulai debut layar lebar lewat film Bukan Bintang Biasa ini. Di Summer Breeze, dia mudah mendapatkan chemistry dengan lawan main, karena kebetulan pernah beradu akting dengan Mischa di sinetron Pangeran Penggoda.

Selain sibuk syuting, Chelsea masih menjadi personel grup vokal BBB (Bukan Bintang Biasa) yang beranggotakan para pesinetron muda seperti Laudya Chintya Bella, Raffi Achmad, Dhimas Beck, dan Ayu Shita.

Chelsea Olivia tentu harus pandai mengatur waktu. Namun itu bukan masalah besar. ’’Saya belum merasa sulit mengatur waktu. Tadinya memang saya pikir sulit, tapi setelah jalan, bisa diatur,’’ ungkapnya.

Setelah menyelesaikan ujian akhir nasional, siswi SMA ini belum menentukan akan studi ke universitas mana. ’’Saya lagi bingung, mau kuliah di mana, mau kedokteran atau di mana, belum tahu.’’

Meski panggung hiburan sudah melambungkan namanya, Chelsea tak mau menduakan sekolah. “Sinetron tidak boleh mengganggu sekolah,” katanya mantap. Yakin? ’’Yakin banget. Biarpun dunia hiburan bisa dijadikan sandaran hidup, pendidikan jauh lebih penting.’’

Namun jika dihubungkan dengan kontrak tiga tahun bersama MD, berarti Chelsea bakal tak bisa tenang mengambil jurusan kedokteran. “Kan tahun pertama dan kedua di kedokteran belum begitu padat. Jadi, saya tetap bisa menjalani keduanya berbarangen,” ujarnya. “Setelah kontrak kerja habis, baru saya menomorsatukan kuliah. Setelah jadi dokter beneran, baru deh, jalanin sinetron dan film lagi,’’ katanya berandai-andai masuk fakultas kedokteran.

Chelsea terjun ke panggung hiburan sebagai model dan membuat album anak-anak. Setelah tergabung ke dalam Indika Intertainment, dia mendapatkan peran dalam sinetron Matahariku dan Tuhan Ada di Mana-mana. Uniknya, Chelsea yang Nasrani saat itu mau menerima tawaran menjadi bintang sinetron islami. Dia mulai dikenal publik sejak membintangi sinetron Cincin.

Setelah itu, tawaran bermain sinetron dan iklan berdatangan. Namanya makin ngetop setelah membintangi Buku Harian Nayla. Wajahnya kemudian menghias sejumlah sinetron seperti Kodrat, Pangeran Penggoda, Penyihir Cinta, Maha Cinta, Mawar, dan Keajaiban Cinta.

Sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/entertainmen/2008/05/11/796/CHELSEA-OLIVIA

Moral of the story:

  1. Kuliah di kedokteran atau menjadi seorang dokter, tidak perlu perencanaan yang matang.
  2. Tahun pertama dan kedua di kedokteran hanya main-main saja kuliahnya.
  3. Sekolah kedokteran menghasilkan para pemain film dan sinetron profesional.

Baiklah jeung Chelsea, saya tunggu di kampus Salemba tahun ini! Buktikan ucapanmu atau jilat ludahmu. ;)

Mar 26, 20101 note
#chelsea olivia

Say unto brethren when they see me dead,
And weep for me, lamenting me in sadness:
‘Think ye I am this corpse ye are to bury?
I swear by God, this dead one is not I.
I in the spirit am, and this my body
My dwelling was, my garment for a time.
I am a treasure: hidden I was beneath
This talisman of dust, wherein I suffered.
I am a pearl; a shell imprisoned me,
But leaving it, all trials I have left.
I am a bird, and this was once my cage;
But I have flown, leaving it as a token.
I praise God who hath set me free, and made
For me a dwelling in the heavenly heights.
Ere now I was a dead man in your midst,
But I have come to life, and doffed my shroud.

Mar 26, 20100 notes
Mar 25, 2010135 notes
Mar 25, 2010138 notes
#indonesia
Mar 24, 20104 notes
#panda
Mar 23, 20101 note
#kill bill
Play
Mar 21, 20101 note
#atomic kitten #the last goodbye
Play
Mar 19, 20104 notes
#buka semangat baru
Play
Mar 19, 20101 note
#nidji #ku tak kan bisa
Play
Mar 19, 20101 note
#tompi #sedari dulu
Mar 19, 2010768 notes
Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta

Pada sebuah telepon umum, seorang wanita berbicara dengan wajah gelisah.

“Katakanlah sekali lagi, kamu cinta padaku.”

Mendengar kalimat itu, orang yang mengantre di belakangnya memberengut, sambil melihat arlojinya. Pengalaman menunjukkan, orang tidak bias berbicara tentang cinta kurang dari 15 menit. Namun, sungguh terlalu kalau wanita itu masih juga bertanya tentang cinta setelah 30 menit. Apalagi sudah ada beberapa orang berdatangan ke telepon umum itu, sambil sengaja mengecrek-gecrekkan koin di tangannya.

“Kamu benar-benar cinta padaku? Sampai kapan?”

Orang-orang mendengar kalimat itu dengan jelas. Wanita yang menelepon dengan wajah gelisah itu memang terlihat berusaha menahan suaranya, tapi rupanya perasaannya berteriak lebih keras. Menjadi tidak penting lagi baginya, apakah orang-orang itu mendengar atau tidak. Mereka toh tidak tahu siapa dirinya. Di kota besar seperti ini, kita tidak selalu bertemu orang yang sama di jalanan. Begitu juga di telepon umum.

“Kamu gombal, kamu juga mengatakan hal yang sama pada pacar-pacarmu.”

Wanita itu melirik kea rah orang-orang yang menunggu, kemudian melihat arlojinya, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa ia bukan tidak tahu tentang waktu yang dihabiskannya. Tapi, kemudian ia menyembunyikan wajahnya ke dalam kotak kuning, berbicara pelan-pelan dan tersendat-sendat. Barangkali lelaki di seberang sana itu memberikan jawaban yang kurang berkenan.

“Aku Cuma salah satu di antara mereka, aku Cuma salah satu dari wanita-wanita itu, aku tidak ada artinya bagimu.”

Wajah wanita yang tadi gelisah itu kini tampak menderita. Matanya penuh cinta, tapi memancarkan rasa takut kehilangan.

“Ternyata kamu bohong, kamu tidak mencintaiku,” katanya.

Para pengantre berdecak-decak gelisah. Mulut mereka memperdengarkan bunyi ‘ck’ yang sengaja dikeras-keraskan. Sebagian menggeser-geser dan menghentak-hentakkan sepatunya. Sebagian, untuk kesekian kalinya, melihat arloji. Sebagian lagi terus terang menggerutu.

“Siang-siang panas begini bicara tentang cinta, seperti tidak ada waktu lain.”

“Terlalu.”

“Sudah setengah jam.”

“Kalau pergi ke telepon umum yang di sana, sudah sampai dari tadi, tapi sekarang jadi tanggung!”

“Berapa lama lagi dia selesai?”

“Ini sudah setengah jam.”

“Paling lama sepuluh menit lagi, dia kan tahu dari tadi kita menunggu.”

“Saya Cuma perlu menelepon setengah menit, penting sekali.”

“Saya juga Cuma sebentar, tapi penting sekali.”

“Saya harus segera telepon, sangat penting, kalau tidak, saya bisa celaka.”

***

Kemudian, terdengar suara wanita itu, yang tanpa disadarinya sudah menjadi jauh lebih keras.

“Kamu ini bagaimana, sih? Kamu tahu kan aku sayang padamu, aku selalu kangen padamu. Aku cinta sekali padamu, kamu jangan begitu, dong!”

Wanita itu sudah memasukkan koin lagi, dua sekaligus. Artinya percakapan masih akan berlangsung, setidaknya 12 menit lagi. Kalau setelah itu masih juga bicara, sungguh-sungguh keterlaluan, karena pengantre yang paling dekat dengannya sudah menunggu selama 42 menit. Sebagian orang yang datang belakangan sudah pergi. Mereka bisa memperkirakan waktu yang lama melihat banyaknya para penunggu. Namun, yang sudah terlanjur menunggu lama agaknya merasa rugi jika pergi. Mereka masih menunggu dengan wajah yang disabar-sabarkan.

“Aku ingin yakin bahwa kamu memang cinta padaku. Aku harus yakin kamu memang cinta, kamu memang sayang, kamu memang selalu memikirkan aku. Apakah kamu selalu memikirkan aku? Katakan padaku kamu cinta, cinta, cinta…”

Apakah yang dikatakan lelaku di telepon sebelah sana? Wanita yang menelepon dengan wajah gelisah itu kini untuk pertama kalinya tersenyum. Pasti yang disebut cinta itu ajaib sekali, karena bisa menelusuri kabel telepon dan mengubah wajah seorang wanita yang gelisah jadi bahagia. Menjadi cantik, dan menyegarkan, meski di siang panas terik yang melelehkan aspal jalanan. Mata wanita itu berbinar-binar, bagaikan mata kanak-kanak di sebuah dunia fantasi.

Pemandangan ini agak melegakan para pengantre. Pasangan yang bercinta di telepon biasa memutuskan percakapan mereka pada saat-saat terbaik. Mata wanita itu menunjukkan kebahagiaan. Pada saat seperti itu ia bisa berpisah di telepon dengan senang, dengan perasaan seolah-olah dunia sudah menjadi miliknya. Tinggal sebentar lagi, pikir orang-orang yang menunggu itu, sambil lagi-lagi melihat arlojinya.

“Satu koin lagi, ya? Ngomong cinta lagi, dong.”

Meluncur satu koin lagi. Berarti enam menit lagi. Orang-orang mengerutkan dahi. Alangkah memabukkannya cinta yang bergelora itu. Tapi, sudahlah, enam menit bukan waktu yang lama.

“Kamu masih akan mencintaiku kalau aku sudah tua?”

“Kamu masih akan mencintaiku, meskipun ada seorang wanita cantik merayumu?”

“Benarkah cuma aku seorang di dunia ini yang ada di dalam hatimu?”

“Masih cintakah kamu pada istrimu?”

***

Semua orang menoleh. Wajah wanita itu sudah gelisah lagi.

“Masih cintakah kamu pada istrimu?”

Meluncur lagi satu koin.

“Gila! Hampir satu jam!” Seseorang berteriak dengan marah.

“He! Mbak! Ini telepon umum! Gantian, dong.”

Pengantre yang paling lama mendekatkan kepalanya ke kotak kuning, sengaja memperlihatkan dirinya di depan mata wanita itu, sambil mengetuk-ngetukkan koinnya dari luar kotak. Wanita itu berkata pada yang diteleponnya.

“Sebentar, sebentar.”

Lantas ia mendekapkan telepon itu ke dadanya, dan berkata pada pengantre yang terdekat dengannya.

“Maaf, sebentar lagi, ya, Pak? Sebentaaar saja.”

Kemudian, ia menolehkan kepalanya ke arah lain. Berbicara setengah berbisik, maunya, karena yang terjadi adalah ia berteriak tertahan.

“Katakan yang jelas, apakah kamu masih mencintainya?”

Angin berhembus. Mega menutupi matahari. Langit mendung.

Orang-orang yang menunggu hanya melihat wanita itu mengeluarkan tissue dari tasnya, dan mulai mengeluarkan ingus. Matanya basah.

“Kamu masih tidur dengan dia?”

Orang yang berada di dekatnya menjauh. Mencari tempat untuk duduk. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan, selain menunggu. Angin makin kencang berhembus. Daun-daun berguguran.

“Kamu kok bisa, sih? Kamu terga sekali padaku. Sebetulnya kamu tidak mencintai aku.”

Seseorang pura-pura batuk, mengingatkan, tapi wanita itu sudah tidak peduli. Ia meluncurkan satu koin lagi.

“Apa sih artinya aku buat kamu? Apa sih artinya aku?”

Wanita itu membuang tissue ke bawah, dan mengambil lagi tissue yang lain. Sambil menjepit telepon dengan kepalanya, ia mendenguskan ingusnya. Tiada yang lebih sendu selain wanita yang menangis karena cinta.

“Jadi, kamu bisa mencintai lebih dari satu orang? Kamu bisa mencintai dua orang sekaligus?”

Ia seorang wanita yang cantik, menarik, dan indah. Wajahnya gelisah dan sendu, tapi ini membuatnya semakin lama semakin indah. Apakah cinta yang membuat seorang wanita menjadi indah? Mungkinkah seorang wanita menjadi indah tanpa cinta? Apakah artinya cinta bagi seorang wanita?

“Jadi, apa artinya hubungan kita? Apa artinya?”

Debu cinta bertebaran. Suatu ketika di suatu tempat, entah kapan dan di mana, seseorang bisa begitu saja saling jatuh cinta dengan seseorang yang lain. Ah, ah, ah-lelaki macam apakah kiranya yang berada di seberang telepon itu, yang telah membuat seorang wanita yang indah menjadi gelisah?

“Apa sih artinya cinta untukmu? Coba jelaskan padaku. Apa sih artinya cinta?”

Jeglek! Tuuuuuuttt…

Koinnya habis. Hubungan pun terputus. Wanita itu tertegun. Ia merogoh dompetnya. Tak ada lagi koin di sana. Ia banting gagang telepon itu dengan kesal.

Pengantre yang sejak tadi menunggu segera menyerobot dengan setengah memaksa. Pengantre yang lain pun mendekat dengan wajah mengancam. Semua orang punya keperluan penting. Tak seorang pun peduli dengan wanita itu, yang setelah menukarkan uang kertasnya dengan setumpuk koin di kios rokok, segera ikut menunggu kembali, meskipun hujan kini turun dengan deras.

Wanita indah yang wajahnya gelisah itu tidak lari berteduh-ia tetap menunggu, sampai basah kuyup. Ia juga punya keperluan penting. Ia masih menyimpan sebuah pertanyaan untuk cinta.

Taman Manggu, 21 Maret 1993

Seno Gumira Ajidarma

Mar 17, 20105 notes
#sebuah pertanyaan untuk cinta #seno gumira ajidarma
Next page →
2012 2013
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
2011 2012 2013
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
2010 2011 2012
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
2009 2010 2011
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
2009 2010
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December