November 2010
Nova City Apartment, Macau, 18 November 2010, 07.18
Kehadiran saya di Macau bersama dua orang teman membawa satu makna baru bagi saya, yaitu bahwa setiap orang di dunia ini saling terhubung. Pertama, saat kami terhenti di bandara dan berencana menginap untuk menunggu pagi, salah seorang Indonesia yang juga menumpang satu pesawat bersama kami tiba-tiba datang menghampiri. Namanya Tandi. Ia kebingungan mencari tempat penginapan dan meminta bergabung. Ia mengatakan hanya semalam di Macau karena esok pagi akan menyeberang ke Guangzhou untuk bertemu pacarnya. Kami pun, berempat termasuk Tandi, menerimanya bergabung. Kemudian, Febry menelepon salah seorang temannya yang dikenalnya via internet, namanya Iuri, untuk menginap di apartemennya. Sebelumnya memang Febry telah membuat janji dengan Iuri dan kami diperbolehkan menginap di apartemennya. Di telepon, Iuri pun mengatakan bahwa kami dipersilakan saja datang ke apartemennya dan pintunya tidak dikunci. Kami lalu menuju sana menggunakan taksi dan benar saja, sesampainya di sana, apartemen Iuri seolah sangat terbuka bagi kehadiran kami. Saat itu waktu menunjukkan pukul 00.30 dini hari dan Iuri baru datang pada pukul 2.00 bersama teman wanitanya, Joy. Iuri adalah seorang Brazil yang sudah 4 tahun tinggal di Macau, sedangkan Joy berasal dari Filiphina. Sambutan mereka sangat baik terhadap kami. Kami disuguhkan kue coklat bulat, dimasaki makanan khas Filiphina oleh Joy, dan disediakan tempat tidur yang nyaman. Sungguh, ini adalah salah satu karunia tak terduga dari Tuhan melalui tangan orang yang tak dikenal.
![]()
Mc Donald’s Nova City Taipa, 18 November 2010, 21.33
Macau, neither heaven nor hell. Slogan itu sepertinya memang cukup menggambarkan keadaan kota ini yang sebenarnya. Dengan banyaknya gereja peninggalan masa penjajahan portugis yang dijadikan objek wisata, Macau juga berisi banyak tempat bermain judi yang ramai dikunjungi setiap malamnya. Meskipun demikian, prestasi yang menurut saya layak dicatat dari kota ini adalah begitu seriusnya pemerintah dalam menangani industri parawisatanya sehingga Macau menjadi kota yang layak kunjung bagi wisatawan. Hal ini seharusnya dicontoh oleh pemerintah kota Jakarta karena masih begitu banyak hal yang harus dibenahi dalam berbagai bidang di industri pariwisata kota Jakarta.
![]()
Di dalam bis nomor 23 menuju satu-satunya masjid di Macau, 18 November 2010, 14.20
Salah satu hal yang saya sukai dari Macau adalah negeri ini begitu menghargai dan menghormati pejalan kaki. Contohnya antara lain jalan pedesterian yang bagus dan luas, pengemudi kendaraan yang mendahulukan penyeberang jalan, dan tertatanya fasilitas bus umum yang memadai. Hal ini membuat jumlah pejalan kaki dan pengguna transportasi umum jauh lebih banyak dibandingkan pengguna kendaraan pribadi. Hal ini tentu berkebalikan dengan kondisi yang ada di kota Jakarta tercinta. Semoga gubernur Jakarta semakin menyadari perlunya penataan masalah transportasi massal sehingga masalah yang berlarut-larut melanda ibu kota tercinta dapat segera terselesaikan.
![]()
7 Eleven, Taipa Island, Macau, 18 November 2010, 9.50
Kami mengunjungi toko ini untuk membeli Macau Pass, kartu yang digunakan untuk melakukan pembayaran bus umum, dan juga untuk menukarkan uang beberapa HKD ke dalam MOP. Sewaktu melihat daftar menu, ada menu yang menarik, yaitu Hot Shot, berupa kombinasi siomay ikan dan mie seharga 10 dollar. Saya dan Febry memesannya dan ternyata mie yang digunakan adalah mie instan sejuta umat di Indonesia. Ya, tidak lain dan tidak bukan adalah Indomie goreng. Hal ini tentunya menjadi sebuah kebanggaan tersendiri mie instan produksi Indonesia digunakan oleh salah satu toko terkemuka. Semoga kebanggaan ini menyusul untuk produk-produk buatan Indonesia lainnya.
![]()
![]()