Selamat datang di sosial media. Dunia kedua bagi seluruh pengguna smartphone di seluruh dunia (bisa juga dunia pertama bagi sebagian di antaranya). Penduduknya beragam, tersebar merata di seluruh benua, dari yang muda hingga usia tua, dengan berbagai latar belakang sosial ekonomi. Saat ini, 73% orang di seluruh dunia memiliki sosial media dan sejumlah 43% memiliki lebih dari satu situs sosial media. Sosial media menjadi suatu hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Di era saat ini, mulai terjelaskan kenapa gadget untuk mengakses sosial media disebut telepon genggam, karena gadget tersebut hampir setiap saat berada di genggaman, mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur, mulai dari kecil saat belajar menggenggam hingga nanti ketika sudah tidak bisa lagi menggenggam.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia adalah negara paling ramah sosial media di dunia. Terdapat 11 juta lebih pengguna facebook dan 29 juta lebih pengguna twitter di Indonesia. Hal ini adalah angka yang mencengangkan mengingat tingkat akses terhadap internet bagi penduduk Indonesia masih terbatas pada 40 juta dari 240 juta penduduknya, sebagian besar terkonsentrasi di kota besar. Penetrasi internet di Indonesia hanya 17%, namun lebih banyak orang Indonesia yang mengakses internet dibandingkan dengan membaca surat kabar ataupun mendengarkan radio. Sosial media adalah sarana untuk berpendapat di depan publik yang utama bagi banyak orang Indonesia. Setiap orang berpendapat tentang apa saja, mulai dari isu penting seperti politik dan ekonomi, hingga yang remeh-temeh seperti cinta-cintaan ala Mario Teguh. Setiap orang, melalui sosial media, bisa berlaku seolah-olah sebagai seorang ahli di bidangnya. Seseorang yang awalnya bukan siapa-siapa bisa dengan sekejap dipuja-puja bak seorang idola melalui sosial media. Seseorang yang awalnya didamba-damba bisa dicaci-maki seketika, juga karena sosial media. Pendapat orang lain yang tidak kita kenal terhadap teman kita di sosial media, jauh lebih kita percaya dibandingkan pengetahuan dan pengalaman kita terhadap teman tersebut.

Tidak ada privasi dalam sosial media. Setiap situs saling terhubung. Facebook dengan instagram. Twitter dengan tumblr. Tumblr dengan path. Path dengan twitter. Bahkan untuk sosial media yang tergolong private seperti Path sekalipun, privasi bisa terbuka lebar. Kasus Oknum D yang menulis kekesalannya terhadap ibu hamil pengguna kereta Commuter Line di Jakarta menjadi contohnya. Postingan tersebut menyebar hingga portal berita dan TV nasional. Beropini melalui tulisan di sosial media, sama artinya dengan berbicara dengan jutaan orang di luar sana, suatu hal yang sering kali tidak disadari oleh banyak orang. Setiap orang berpendapat di sosial media. Pendapat itu bisa berupa ide, konsep, gagasan, tetapi lebih sering pendapat tentang kehidupan personal orang lain. Karena tidak ada interaksi tatap muka secara langsung di sosial media, pendapat yang dikeluarkan seringkali dinyatakan dengan lebih berani, lebih frontal, lebih vulgar, dan lebih tidak beretika. Untuk hal ini, kita bisa belajar dari kasus Oknum Z yang berpendapat tentang politik baru-baru ini.

You are what you post. Kita bisa menilai orang dari postingannya di sosial media. Melalui sosial media, saya bisa mengetahui bahwa teman saya Oknum X adalah tukang mengeluh, oknum yang lain adalah tukang pamer, oknum berikutnya adalah si makan teman, oknum yang satunya hobi membaca, oknum yang itu pintar berbicara tanpa aksi nyata, oknum yang di sana adalah pemuda masa depan bangsa, dan sebagainya. Lebih jauh dari itu, sosial media mengajarkan pada saya siapa diri saya dan ingin seperti apa saya di masa depan. Hanya saja, semua hal di sosial media seringkali menipu. Tidak semua postingan seseorang di sosial media menggambarkan kehidupan aslinya. Tidak semua pendapat seseorang di sosial media adalah benar. Di sosial media, kebahagiaan bisa jadi adalah kesedihan, keramaian adalah kesepian, kesolehan adalah kepura-puraan, madu adalah racun. Hidup di sosial media memang terasa nyaman, tetapi kehidupan paling nyata adalah ketika telepon genggam berada lepas dari genggaman. Kehidupan nyata yang sudah terlupakan yang memang selalu ada untuk kita, dengan atau tanpa sosial media.

"Tidak semua permainan harus kau menangi. Berlapang dadalah senantiasa. Sukses tetaplah nama belakangmu."
Phara Sotya Satria dalam Monik
"Lelaki baik adalah lelaki yang tidak tengil atau sesumbar, tidak sok tahu atau menggurui. Meski tidak berarti lelaki baik-baik. Lelaki baik-baik, yaitu yang setia kepada keluarga, bisa saja sangat menyebalkan dan suka membual demi menegakkan citra kepala keluarga. Lelaki baik adalah lelaki yang menyenangkan untuk diajak ngobrol bersama, meski belum tentu baik untuk hidup bersama."
Ayu Utami dalam Terbang
"Kita tak pernah tahu hati perempuan. Mereka selalu main dua kartu."
Ayu Utami dalam Berlawanan
"Sangat mudah menjadikan perempuan hanya untuk seorang lelaki, tetapi tidak mudah menjadikan seorang lelaki hanya untuk seorang perempuan."
M. Quraish Shihab

(Source: henrrydelavega)

Saya punya kabar untuk Anda: umur Anda mungkin tinggal hari ini saja
Teman-teman dan rekan kerja akan Anda tinggalkan di dunia
Diri Anda hanya akan tinggal nama
Kenangan-kenangan indah masa kecil akan terlupa

Saya punya kabar untuk Anda: umur Anda rasanya hanya sampai sore hari ini saja
Deadline tugas esok hari tidak ada lagi artinya
Ketakutan Anda juga sia-sia saja
Dua lembar uang seratus ribu di dompet Anda lebih-lebih tidak ada lagi nilainya

Saya punya kabar untuk Anda: umur Anda sangat mungkin berakhir hari ini saja
Anda tidak perlu mengkhawatirkan lagi tentang masa depan Anda
Tidak perlu Anda pedulikan lagi siapa presiden Indonesia berikutnya
Tidak usah Anda risaukan lagi perkataan orang mengenai diri Anda

Saya punya kabar untuk Anda: kalau umur Anda tinggal hari ini, itu apa artinya bagi Anda?
Apakah itu baik sehingga Anda menyambutnya dengan senang hati?
Apakah itu buruk sehingga begitu merisaukan lubuk hari Anda?
Apakah Anda tidak peduli apapun kabar mengenai diri Anda hari ini?

Saya punya kabar untuk Anda: kabar untuk Anda itu benar adanya. Suatu hari, umur Anda hanya tinggal satu hari saja. Hanya Anda tidak tahu saja.