"Kekayaan orang berakal adalah ilmunya dan kekayaan orang bodoh adalah hartanya."
Ali bin Abi Thalib
"Cinta diukur pada saat terjadi dua kepentingan yang berbeda. Ketika itu, kepentingan apa dan atau siapa yang dipilih, itulah objek yang lebih dicintai. Ketika terdengar suara adzan, misalnya."

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, sudah berapa usia kita saat ini? Lalu, sudah berapa usia kita yang dicuri oleh waktu? Tahukah kamu bagaimana waktu mencuri usia manusia? Waktu mencuri usia manusia melalui angan-angan akan hari esok sehingga kita melupakan hari ini, terus berulang setiap harinya hingga usia kita habis. Saat kecil, kita ingin menjadi remaja. Saat remaja, kita ingin menjadi dewasa. Saat dewasa, kita ingin menikah dan berkeluarga. Saat berkeluarga, kita ingin melihat anak kita tumbuh dewasa. Dan kita sendiri telah menua. Di hari tua, kita ingin kembali ke masa muda, sementara senja sudah di depan mata.

"Kepemimpinan bukan keistimewaan, tetapi tanggung jawab. Ia bukan fasilitas, tetapi pengorbanan. Ia juga bukan leha-leha, tetapi kerja keras. Ia juga bukan kesewenang-wenangan bertindak, tetapi kewenangan melayani. Selanjutnya, kepemimpinan adalah keteladanan berbuat dan kepeloporan bertindak."
M. Quraish Shihab
"Orang yang senang menggunjing adalah orang yang miskin pengetahuan. Karena tidaklah ia miskin dalam pengetahuan sampai-sampai menjadikan keburukan orang lain sebagai bahan perbincangan."

Salah satu hobi kalau di Jogja: ngeliat montor mabur di Adisucipto.

"Kelak jika nanti kamu telah menemukan seseorang yang memperjuangkanmu, kamu harus berjuang untuk bisa bersamanya. Cinta itu harus diperjuangkan, bukan hanya menunggu."
Rizkita Lubis dalam Dari Prolog Hingga Epilog

Judul buku: Dari Prolog Hingga Epilog

Penulis: Rizkita Lubis

Jumlah halaman: vi + 423

Penerbit: Self-publishing

Satu kesimpulan yang bisa saya ambil dari membaca buku ini adalah cinta tidak selalu sederhana. Cinta seringkali memiliki kerumitannya tersendiri, baik itu para pelakunya, maupun lingkungan yang terbentuk di dalamnya. Rizkita Lubis mengemas kerumitan tersebut dalam lima cerita yang ada dengan suasana cinta yang kelam. 

Lihat saja, Maharani dan Jonny yang sama-sama menjadi korban dari sebuah pilihan; Raya dan Januar yang memiliki kesulitan dalam memahami isi hati; Shalu, Ayala, Febby, Willa, dan Juan yang terlibat cinta segibanyak; Kania yang terjebak dalam masa lalu; hingga Arkania yang berada dalam dilema di antara masa lalu dan masa depannya.

Rizkita menulis secara ringan, tetapi suram. Penulis mungkin saja ingin menunjukkan bahwa cinta tidak selalu putih suci, tetapi bisa saja bernoda, entah sedikit, entah banyak. Dan sesuram apapun suatu perjalanan cinta, ia akan menemukan jalannya menuju kesucian sebagai fitrahnya. Dan bahwa, “Kadang, menikah karena alasan cinta aja gak cukup.” (halaman 251)

Silakan hubungi penulis di jangantakut.tumblr.com jika ingin ikut membeli dan mengapresiasi buku ini.

"Ketika kita sudah bertemu orang yang tepat, semuanya akan terasa benar."
Rizkita Lubis
"Berjanjilah kepada dirimu tiga hal: jika kamu mengerjakan sesuatu, ingatlah Allah, karena Dia melihatmu; jika kamu berbicara, ingatlah Allah, karena Dia mendengarmu; jika kamu diam, ingatlah Allah, karena Dia tahu isi hatimu."

Saat itu saya sedang late lunch bareng Oknum N di salah satu restoran chinese food di Jakarta Selatan. Kami berbincang, topiknya: perempuan, karir, dan keluarga.

“Di kantor aku, banyak banget single ladies yang karirnya bagus,” ujar Oknum N.

“Itu bukan cuma di kantor kamu aja, N, tapi menurutku fenomena satu dekade terakhir,” saya menambahkan.

Kita lagi ngomongin dilema antara karir dan keluarga bagi perempuan. Sebelumnya saya mengatakan bahwa ada tiga teman SMP saya yang resign dari pekerjaannya setelah menikah. Oknum G resign dari perusahaan animasi dan film tempatnya bekerja, Oknum T resign dari perusahaan multinasional di saat karirnya sedang menanjak, Oknum L juga melakukan hal yang sama. Ketiganya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga.

“Atasan aku,” lanjut Oknum N, “umurnya 36 tahun, karirnya melesat banget, tapi belum menikah sampai sekarang. Terus dia bilang sama aku: Mungkin kamu ditakdirkan Allah untuk ketemu aku ya, N, supaya kamu bisa punya gambaran gimana seseorang yang sukses di karir tapi enggak dalam hal keluarga.”

Oknum N berencana sekolah di UK tahun depan.

“Terus, rencana kamu apa setelah sekolah?” tanya saya.

“Kalau aku udah dapet pasangan, setelah sekolah aku akan balik ke Indonesia dan kerja dari rumah. Kalau belum, aku akan berkarir di luar.”

Saya menangkap kekhawatiran dari ucapan Oknum N.

“Nih Nus ya, perempuan itu harus milih salah satu, kalau ga karir, ya keluarga, ga bisa dua-duanya,” ujar Oknum H, salah satu teman SMP saya, di kesempatan yang berbeda. Oknum H berencana menjadi PNS akibat dilema karir-keluarga ini. Menurutnya, beban kerja menjadi PNS paling memungkinkan untuk diimbangi dengan kegiatan berkeluarga. Oknum H belum berkeluarga sampai saat ini.

“Iya Nus, kalau perempuan karirnya bagus, pasti keluarganya bermasalah. Atau kalau keluarganya bagus, ya karirnya gitu-gitu aja,” tambah Oknum D.

Semalam, Oknum R mengirim sms kepada saya: “Yunus, gue baru baca postingan tumblr lo (baca: http://tmblr.co/Z_I7Vy1OIiba3). Terus itu kenapa lo ngerasa lega banget pas tau gue mau nikah?”

Saya membalas: “Soalnya zaman sekarang banyak single ladies yang udah tua, R. Yang ngejar karir, tapi lupa berkeluarga. I’m happy for you. :)“

Berkeluarga atau berkarir itu adalah pilihan bagi perempuan. Tapi, selalu ingat, di hari tua nanti, yang akan menyelamatkan kita adalah keluarga yang kita bangun, bukan karir kita.

Doraemon manga, introducing friendzone concept since 1969.

Doraemon manga, introducing friendzone concept since 1969.

"Find someone complimentary, not supplementary."
Oprah Winfrey
"Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain."
Adhitya Mulya dalam Sabtu Bersama Bapak