Mulai kurikulum berbasis kompetensi, anak FK, setelah dilantik jadi dokter, pasti akan mengalami masa abu-abu bernama internship, yaitu bertugas di puskesmas dan rumah sakit daerah di bawah supervisi seorang dokter umum. Masalahnya adalah dalam setahun, akan ada banyak waktu luang yang dimiliki oleh seorang dokter internship, yang kalau ga dimanfaatkan akan terbuang sia-sia. Memang ada tugas yang harus dilakukan dokter internship di samping tugas rutin harian, yaitu mengumpulkan 400 kasus, membuat laporan kasus, dan mini project. Tapi percayalah, semuanya bisa diselesaikan dalam waktu beberapa bulan saja. Untuk itu, menyambut akan berakhirnya masa internship saya di Dompu, berikut saya berikan bocoran hal-hal apa aja yang bisa kamu lakukan selagi kamu menghitung bulan menuju selesainya internship.

1. Belajar bahasa daerah

Ini penting banget, apalagi yang internshipnya di daerah antah berantah. Seperti saya, misalnya. Saya lahir dan besar di Jakarta dan bahasa daerah hanya bisa bahasa jawa pasif, tapi dapet internshipnya di Dompu, yang bahasa sehari-harinya adalah bahasa Mbojo. Jadi ga jarang saya kesulitan dalam komunikasi dengan pasien dan ujung-ujungnya minta bantuan perawat sebagai penerjemah. Teman-teman saya, setelah ditempa secara otodidak selama hampir setahun, sudah jago-jago bahasa Mbojonya, mulai dari bahasa sehari-hari tentang keluhan pasien, sampai bahasa kasar dan slang-nya.

2. Belajar masak

Ini dilakukan terutama sama cewek-cewek. Untungnya adalah cewek masaknya banyak, tapi makannya dikit. Kalau kita yang cowok-cowok sih senang, kerjaannya tinggal nyicipin hasil masakannya. Nyicipin sampe habis.

3. Apply Beasiswa

Buat yang mau sekolah lagi, bisa apply beragam penawaran beasiswa yang berserakan di luar sana. Tips dari saya adalah siapkan legalisir ijazah dan transkrip nilai yang banyak sebelum internship, juga jangan lupa tes toefl/ielts. Keputusan ikut tes toefl sebelum internship adalah keputusan yang selalu saya syukuri.

4. Ikut Pelatihan/Seminar/Workshop

Selagi waktu memungkinkan (apalagi gratis), ikuti pelatihan sebanyak-banyaknya. Mumpung lagi idle kan. Misalnya pas ke Jakarta bulan lalu, saya ikut ACLS dan ATLS dalam waktu yang berdekatan. Juga di awal tahun ini, saya sempat ikut pelatihan seminggu soal Global Health di Makassar. Gratis, dapet ilmu, dapet kenalan, dapet pengalaman, dapet uang saku pula. PS: Teman-teman saya lainnya lebih gila lagi, ikut acara ilmiah mulai skala lokal, nasional, sampai internasional (seperti Oknum W yang ke Jepang).

5. Jalan-Jalan

Ini ga boleh ketinggalan. Mumpung banyak waktu luang dan masih muda. Apalagi kalau lokasi internship kamu deket sama tempat wisata yang oke. Oknum A, teman internship saya di Dompu, udah menjelajah Flores dari Kelimutu di Ende sampai Labuan Bajo dan Komodo. Atau Oknum D yang internship di Tarakan, bertualang ke Derawan. Kalau lokasi internship kamu ga deket lokasi wisata apapun, coba cari tau lokasi wisata lokal yang belum diketahui banyak orang (baca majalah Tempo edisi khusus 100 surga tersembunyi). Kayak saya misalnya beberapa waktu yang lalu ke Pulau Nisa Pudu yang bagus banget banget dan masih virgin karena belum banyak yang tau. Setelah itu, dengan bantuan Oknum K, teman yang juga wartawan, saya sebarkan pesona Pulau Nisa Pudu ini di tabloidnya. Ujung-ujungnya jadi ikut mendorong ekonomi pariwisata di tempat itu kan.

6. Melakukan Kegiatan Sosial

Bentuknya bisa apa aja, sesuai kebutuhan daerah internship kamu. Misalnya Dompu yang merupakan daerah tertinggal, akses terhadap buku di sini sulit sekali. Makanya saya dan teman-teman sewahana membuat gerakan peduli anak-anak Dompu dengan menampung buku dan mainan anak kiriman teman-teman di Pulau Jawa untuk disalurkan ke anak-anak di sini. Kita juga bikin buka puasa bersama anak-anak yatim di Dompu. Semuanya murni inisiatif dokter internship loh.

7. Bersahabat dengan penduduk lokal

Di Dompu saya bersahabat dengan Oknum D, tukang buah depan RS; dan Oknum A, tetangga dan jamaah satu masjid. Punya sahabat lokal menurut saya penting karena kita kan menumpang di daerah orang lain, jadi pasti akan butuh banyak bantuan selama setahun ke depan. Misalnya saja, dari mereka saya sering mendapat bantuan kiriman makanan, bisa minta tolong dianterin ke suatu tempat, sampai bisa membeli madu kualitas oke dengan harga murah (Dompu/Sumbawa terkenal akan madunya).

8. Mengajar

Ini ga semua orang suka ya. Tapi, kalau saya pada dasarnya suka ngajar dan emang udah sering ngajar dari kecil. Kebetulan pas internship ini, saya ada kesempatan ngajar di sebuah STIKES di Dompu sebagai dosen tidak tetap untuk mata kuliah anatomi. Di IGD pun, sambil tugas jaga, saya dan teman-teman suka ngajar membaca dan berhitung ke anak kecil yang tinggal di sekitar RS.

9. Nyicipin berbagai makanan lokal

Ini buat yang suka makan ya. Sayangnya saya orangnya picky eater. Oknum S yang suka makan, jadi punya banyak referensi makanan lokal karena internship di Dompu. Saya juga nemu warung penjual nasi kuning terenak di dunia ya karena internship di Dompu ini.

10. Mengenal budaya lokal

Caranya bisa dengan berpartisipasi aktif kalau ada kegiatan budaya. Di Dompu, misalnya, suka ada arak-arakan budaya di jalan. Hampir tiap bulan selalu ada kayaknya. Kita bisa sekedar nonton, atau kayak Oknum R yang sempat ikut jadi peserta arak-arakan juga. Pas kegiatan pelatihan di Makassar, ada gala dinner yang mewajibkan peserta memakai baju adat asal daerahnya masing-masing. Meskipun bukan orang Dompu, saya akhirnya memutuskan memakai baju adat Dompu. Kapan lagi coba memperkenalkan budaya Dompu ke orang banyak.

11. Mengasah hobi

Buat yang cowok-cowok bisa bikin tim futsal dan tanding dengan tim lokal. Atau sepedaan seperti saya. Saya pernah sepedaan bareng-bareng melintasi Dompu selama 3 jam menuju pantai (dan itu menyenangkan!). Atau menulis (dalam masa internship, saya sempat menyelesaikan satu naskah dan satu draft tulisan). Atau merajut, seperti yang dilakukan Oknum D.

Selain poin-poin di atas sebenernya masih banyak hal yang bisa kita lakukan selama internship, seperti melakukan penelitian (Oknum F kabarnya sih begini *tersenyum datar*), ngabisin baca banyak buku, mencari penghasilan tambahan (misalnya Oknum N yang jadi tim medis pekan olahraga tingkat provinsi), melamar kerja (misalnya ikut CPNS), menikah (seperti Oknum M), dan sebagainya. Apakah mungkin dilakukan semua? Mungkin banget kok. Setahun itu lamaaa dan waktu yang kita miliki itu banyaaak. Tapi ya lakukanlah kegiatan yang kamu suka dan memang mungkin untuk dilakukan. Jangan menikah kalau belum ada calonnya, misalnya. :))

"Memang tidak ada kata terlambat untuk memulai traveling, tapi kalau boleh saya kasih saran, traveling-lah selagi muda! Kalau bisa saya sarankan lagi, traveling-lah selagi single!"
Trinity dalam The Naked Traveler 1 Year Round-The-World Trip
"Kebohongan adalah informasi yang bertentangan dengan keyakinan, bukan yang bertentangan dengan kenyataan."
Quraish Shihab
"Sungguh suatu hal yang sangat aneh, jika Anda mengetahui-Nya kemudian tidak mencintai-Nya, atau mendengar panggilan-Nya kemudian tidak memenuhi-Nya, mengetahui betapa besar keuntungan berinteraksi dengan-Nya lalu berinteraksi dengan selain-Nya, mengetahui betapa besar murka-Nya kemudian membelakangi-Nya, dan lebih aneh lagi bila Anda yakin bahwa Anda membutuhkan-Nya kemudian berpaling dari-Nya."
Quraish Shihab

Suatu hari seorang kakek ditanya berapakah umurnya. Kakek itu menjawab, “15 tahun.” Alasannya karena baru 15 tahun terakhir dia memakmurkan jiwanya dengan amal saleh. Baginya, umur tidak wajar dihitung jika ia berlalu tanpa upaya memakmurkan jiwa. Kalau begitu, umur kamu berapa?

Congratulations.

Bermula dari grup whatsapp. Oknum F ngomongin soal daging Holycow 400 gram. Kemudian saya bilang, “Gue belum pernah makan Holycow.” Lalu Oknum V membalas, “Gue juga belom. Kesana yuk!” Oknum F: “Yuk!” Oknum N: “Yuk!” Kami pun berencana makan di Holycow #CAMP Senopati 2. Namun besoknya Oknum V dengan labilnya bilang, “Gue pengennya Loobie Lobster.” Lalu Oknum F memberikan solusi untuk pergi ke dua-duanya. Jadilah, kami makan di dua tempat itu Minggu kemarin.

Selesai pelatihan (dan ujian) ATLS, saya langsung pergi ke Senopati buat makan siang. Tempat makan pertama adalah Loobie Lobster. Sampai sana udah rame banget, sampai waiting list orang ke-14. Tempatnya emang kecil, tapi worth the wait. Saya pesen Maine Red Lobster 500 gram dibagi dua sama Oknum F. Rasanya juara banget! Bumbunya ga ada obat. :)) Oh ya, sayangnya Oknum N, si budak korporat, ga bisa gabung karena masalah kerjaan.

Habis dari Loobie, kita jalan kaki sedikit ke Holycow-nya Chef Afit cabang Senopati 2. Di sana, saya pesen Wagyu Tenderloin 200 gram. Dagingnya empuk dan cukup juicy, tapi yang unik adalah sausnya. Namanya saus W, berisikan daun-daun yang saya tidak tau apa itu dan rasanya agak asin. Secara umum, Loobie dan Holycow pas banget buat dijadiin menu makan siang yang enak pake banget, mengenyangkan (apalagi kalau keduanya dimakan berbarengan!), dan harga yang relatif sesuai dengan rasa.

Note: Oknum L bawa keponakannya, Fay, yang memakan tiraMISU dengan lahapnya. :) Bermula dari grup whatsapp. Oknum F ngomongin soal daging Holycow 400 gram. Kemudian saya bilang, “Gue belum pernah makan Holycow.” Lalu Oknum V membalas, “Gue juga belom. Kesana yuk!” Oknum F: “Yuk!” Oknum N: “Yuk!” Kami pun berencana makan di Holycow #CAMP Senopati 2. Namun besoknya Oknum V dengan labilnya bilang, “Gue pengennya Loobie Lobster.” Lalu Oknum F memberikan solusi untuk pergi ke dua-duanya. Jadilah, kami makan di dua tempat itu Minggu kemarin.

Selesai pelatihan (dan ujian) ATLS, saya langsung pergi ke Senopati buat makan siang. Tempat makan pertama adalah Loobie Lobster. Sampai sana udah rame banget, sampai waiting list orang ke-14. Tempatnya emang kecil, tapi worth the wait. Saya pesen Maine Red Lobster 500 gram dibagi dua sama Oknum F. Rasanya juara banget! Bumbunya ga ada obat. :)) Oh ya, sayangnya Oknum N, si budak korporat, ga bisa gabung karena masalah kerjaan.

Habis dari Loobie, kita jalan kaki sedikit ke Holycow-nya Chef Afit cabang Senopati 2. Di sana, saya pesen Wagyu Tenderloin 200 gram. Dagingnya empuk dan cukup juicy, tapi yang unik adalah sausnya. Namanya saus W, berisikan daun-daun yang saya tidak tau apa itu dan rasanya agak asin. Secara umum, Loobie dan Holycow pas banget buat dijadiin menu makan siang yang enak pake banget, mengenyangkan (apalagi kalau keduanya dimakan berbarengan!), dan harga yang relatif sesuai dengan rasa.

Note: Oknum L bawa keponakannya, Fay, yang memakan tiraMISU dengan lahapnya. :)

Bermula dari grup whatsapp. Oknum F ngomongin soal daging Holycow 400 gram. Kemudian saya bilang, “Gue belum pernah makan Holycow.” Lalu Oknum V membalas, “Gue juga belom. Kesana yuk!” Oknum F: “Yuk!” Oknum N: “Yuk!” Kami pun berencana makan di Holycow #CAMP Senopati 2. Namun besoknya Oknum V dengan labilnya bilang, “Gue pengennya Loobie Lobster.” Lalu Oknum F memberikan solusi untuk pergi ke dua-duanya. Jadilah, kami makan di dua tempat itu Minggu kemarin.

Selesai pelatihan (dan ujian) ATLS, saya langsung pergi ke Senopati buat makan siang. Tempat makan pertama adalah Loobie Lobster. Sampai sana udah rame banget, sampai waiting list orang ke-14. Tempatnya emang kecil, tapi worth the wait. Saya pesen Maine Red Lobster 500 gram dibagi dua sama Oknum F. Rasanya juara banget! Bumbunya ga ada obat. :)) Oh ya, sayangnya Oknum N, si budak korporat, ga bisa gabung karena masalah kerjaan.

Habis dari Loobie, kita jalan kaki sedikit ke Holycow-nya Chef Afit cabang Senopati 2. Di sana, saya pesen Wagyu Tenderloin 200 gram. Dagingnya empuk dan cukup juicy, tapi yang unik adalah sausnya. Namanya saus W, berisikan daun-daun yang saya tidak tau apa itu dan rasanya agak asin. Secara umum, Loobie dan Holycow pas banget buat dijadiin menu makan siang yang enak pake banget, mengenyangkan (apalagi kalau keduanya dimakan berbarengan!), dan harga yang relatif sesuai dengan rasa.

Note: Oknum L bawa keponakannya, Fay, yang memakan tiraMISU dengan lahapnya. :)

"Kekayaan orang berakal adalah ilmunya dan kekayaan orang bodoh adalah hartanya."
Ali bin Abi Thalib
"Cinta diukur pada saat terjadi dua kepentingan yang berbeda. Ketika itu, kepentingan apa dan atau siapa yang dipilih, itulah objek yang lebih dicintai. Ketika terdengar suara adzan, misalnya."

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, sudah berapa usia kita saat ini? Lalu, sudah berapa usia kita yang dicuri oleh waktu? Tahukah kamu bagaimana waktu mencuri usia manusia? Waktu mencuri usia manusia melalui angan-angan akan hari esok sehingga kita melupakan hari ini, terus berulang setiap harinya hingga usia kita habis. Saat kecil, kita ingin menjadi remaja. Saat remaja, kita ingin menjadi dewasa. Saat dewasa, kita ingin menikah dan berkeluarga. Saat berkeluarga, kita ingin melihat anak kita tumbuh dewasa. Dan kita sendiri telah menua. Di hari tua, kita ingin kembali ke masa muda, sementara senja sudah di depan mata.

"Kepemimpinan bukan keistimewaan, tetapi tanggung jawab. Ia bukan fasilitas, tetapi pengorbanan. Ia juga bukan leha-leha, tetapi kerja keras. Ia juga bukan kesewenang-wenangan bertindak, tetapi kewenangan melayani. Selanjutnya, kepemimpinan adalah keteladanan berbuat dan kepeloporan bertindak."
M. Quraish Shihab
"Orang yang senang menggunjing adalah orang yang miskin pengetahuan. Karena tidaklah ia miskin dalam pengetahuan sampai-sampai menjadikan keburukan orang lain sebagai bahan perbincangan."

Salah satu hobi kalau di Jogja: ngeliat montor mabur di Adisucipto.

"Kelak jika nanti kamu telah menemukan seseorang yang memperjuangkanmu, kamu harus berjuang untuk bisa bersamanya. Cinta itu harus diperjuangkan, bukan hanya menunggu."
Rizkita Lubis dalam Dari Prolog Hingga Epilog

Judul buku: Dari Prolog Hingga Epilog

Penulis: Rizkita Lubis

Jumlah halaman: vi + 423

Penerbit: Self-publishing

Satu kesimpulan yang bisa saya ambil dari membaca buku ini adalah cinta tidak selalu sederhana. Cinta seringkali memiliki kerumitannya tersendiri, baik itu para pelakunya, maupun lingkungan yang terbentuk di dalamnya. Rizkita Lubis mengemas kerumitan tersebut dalam lima cerita yang ada dengan suasana cinta yang kelam. 

Lihat saja, Maharani dan Jonny yang sama-sama menjadi korban dari sebuah pilihan; Raya dan Januar yang memiliki kesulitan dalam memahami isi hati; Shalu, Ayala, Febby, Willa, dan Juan yang terlibat cinta segibanyak; Kania yang terjebak dalam masa lalu; hingga Arkania yang berada dalam dilema di antara masa lalu dan masa depannya.

Rizkita menulis secara ringan, tetapi suram. Penulis mungkin saja ingin menunjukkan bahwa cinta tidak selalu putih suci, tetapi bisa saja bernoda, entah sedikit, entah banyak. Dan sesuram apapun suatu perjalanan cinta, ia akan menemukan jalannya menuju kesucian sebagai fitrahnya. Dan bahwa, “Kadang, menikah karena alasan cinta aja gak cukup.” (halaman 251)

Silakan hubungi penulis di jangantakut.tumblr.com jika ingin ikut membeli dan mengapresiasi buku ini.