"Memang tidak ada kata terlambat untuk memulai traveling, tapi kalau boleh saya kasih saran, traveling-lah selagi muda! Kalau bisa saya sarankan lagi, traveling-lah selagi single!"
Trinity dalam The Naked Traveler 1 Year Round-The-World Trip
"Kebohongan adalah informasi yang bertentangan dengan keyakinan, bukan yang bertentangan dengan kenyataan."
Quraish Shihab
"Sungguh suatu hal yang sangat aneh, jika Anda mengetahui-Nya kemudian tidak mencintai-Nya, atau mendengar panggilan-Nya kemudian tidak memenuhi-Nya, mengetahui betapa besar keuntungan berinteraksi dengan-Nya lalu berinteraksi dengan selain-Nya, mengetahui betapa besar murka-Nya kemudian membelakangi-Nya, dan lebih aneh lagi bila Anda yakin bahwa Anda membutuhkan-Nya kemudian berpaling dari-Nya."
Quraish Shihab

Suatu hari seorang kakek ditanya berapakah umurnya. Kakek itu menjawab, “15 tahun.” Alasannya karena baru 15 tahun terakhir dia memakmurkan jiwanya dengan amal saleh. Baginya, umur tidak wajar dihitung jika ia berlalu tanpa upaya memakmurkan jiwa. Kalau begitu, umur kamu berapa?

Congratulations.

Bermula dari grup whatsapp. Oknum F ngomongin soal daging Holycow 400 gram. Kemudian saya bilang, “Gue belum pernah makan Holycow.” Lalu Oknum V membalas, “Gue juga belom. Kesana yuk!” Oknum F: “Yuk!” Oknum N: “Yuk!” Kami pun berencana makan di Holycow #CAMP Senopati 2. Namun besoknya Oknum V dengan labilnya bilang, “Gue pengennya Loobie Lobster.” Lalu Oknum F memberikan solusi untuk pergi ke dua-duanya. Jadilah, kami makan di dua tempat itu Minggu kemarin.

Selesai pelatihan (dan ujian) ATLS, saya langsung pergi ke Senopati buat makan siang. Tempat makan pertama adalah Loobie Lobster. Sampai sana udah rame banget, sampai waiting list orang ke-14. Tempatnya emang kecil, tapi worth the wait. Saya pesen Maine Red Lobster 500 gram dibagi dua sama Oknum F. Rasanya juara banget! Bumbunya ga ada obat. :)) Oh ya, sayangnya Oknum N, si budak korporat, ga bisa gabung karena masalah kerjaan.

Habis dari Loobie, kita jalan kaki sedikit ke Holycow-nya Chef Afit cabang Senopati 2. Di sana, saya pesen Wagyu Tenderloin 200 gram. Dagingnya empuk dan cukup juicy, tapi yang unik adalah sausnya. Namanya saus W, berisikan daun-daun yang saya tidak tau apa itu dan rasanya agak asin. Secara umum, Loobie dan Holycow pas banget buat dijadiin menu makan siang yang enak pake banget, mengenyangkan (apalagi kalau keduanya dimakan berbarengan!), dan harga yang relatif sesuai dengan rasa.

Note: Oknum L bawa keponakannya, Fay, yang memakan tiraMISU dengan lahapnya. :) Bermula dari grup whatsapp. Oknum F ngomongin soal daging Holycow 400 gram. Kemudian saya bilang, “Gue belum pernah makan Holycow.” Lalu Oknum V membalas, “Gue juga belom. Kesana yuk!” Oknum F: “Yuk!” Oknum N: “Yuk!” Kami pun berencana makan di Holycow #CAMP Senopati 2. Namun besoknya Oknum V dengan labilnya bilang, “Gue pengennya Loobie Lobster.” Lalu Oknum F memberikan solusi untuk pergi ke dua-duanya. Jadilah, kami makan di dua tempat itu Minggu kemarin.

Selesai pelatihan (dan ujian) ATLS, saya langsung pergi ke Senopati buat makan siang. Tempat makan pertama adalah Loobie Lobster. Sampai sana udah rame banget, sampai waiting list orang ke-14. Tempatnya emang kecil, tapi worth the wait. Saya pesen Maine Red Lobster 500 gram dibagi dua sama Oknum F. Rasanya juara banget! Bumbunya ga ada obat. :)) Oh ya, sayangnya Oknum N, si budak korporat, ga bisa gabung karena masalah kerjaan.

Habis dari Loobie, kita jalan kaki sedikit ke Holycow-nya Chef Afit cabang Senopati 2. Di sana, saya pesen Wagyu Tenderloin 200 gram. Dagingnya empuk dan cukup juicy, tapi yang unik adalah sausnya. Namanya saus W, berisikan daun-daun yang saya tidak tau apa itu dan rasanya agak asin. Secara umum, Loobie dan Holycow pas banget buat dijadiin menu makan siang yang enak pake banget, mengenyangkan (apalagi kalau keduanya dimakan berbarengan!), dan harga yang relatif sesuai dengan rasa.

Note: Oknum L bawa keponakannya, Fay, yang memakan tiraMISU dengan lahapnya. :)

Bermula dari grup whatsapp. Oknum F ngomongin soal daging Holycow 400 gram. Kemudian saya bilang, “Gue belum pernah makan Holycow.” Lalu Oknum V membalas, “Gue juga belom. Kesana yuk!” Oknum F: “Yuk!” Oknum N: “Yuk!” Kami pun berencana makan di Holycow #CAMP Senopati 2. Namun besoknya Oknum V dengan labilnya bilang, “Gue pengennya Loobie Lobster.” Lalu Oknum F memberikan solusi untuk pergi ke dua-duanya. Jadilah, kami makan di dua tempat itu Minggu kemarin.

Selesai pelatihan (dan ujian) ATLS, saya langsung pergi ke Senopati buat makan siang. Tempat makan pertama adalah Loobie Lobster. Sampai sana udah rame banget, sampai waiting list orang ke-14. Tempatnya emang kecil, tapi worth the wait. Saya pesen Maine Red Lobster 500 gram dibagi dua sama Oknum F. Rasanya juara banget! Bumbunya ga ada obat. :)) Oh ya, sayangnya Oknum N, si budak korporat, ga bisa gabung karena masalah kerjaan.

Habis dari Loobie, kita jalan kaki sedikit ke Holycow-nya Chef Afit cabang Senopati 2. Di sana, saya pesen Wagyu Tenderloin 200 gram. Dagingnya empuk dan cukup juicy, tapi yang unik adalah sausnya. Namanya saus W, berisikan daun-daun yang saya tidak tau apa itu dan rasanya agak asin. Secara umum, Loobie dan Holycow pas banget buat dijadiin menu makan siang yang enak pake banget, mengenyangkan (apalagi kalau keduanya dimakan berbarengan!), dan harga yang relatif sesuai dengan rasa.

Note: Oknum L bawa keponakannya, Fay, yang memakan tiraMISU dengan lahapnya. :)

"Kekayaan orang berakal adalah ilmunya dan kekayaan orang bodoh adalah hartanya."
Ali bin Abi Thalib
"Cinta diukur pada saat terjadi dua kepentingan yang berbeda. Ketika itu, kepentingan apa dan atau siapa yang dipilih, itulah objek yang lebih dicintai. Ketika terdengar suara adzan, misalnya."

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, sudah berapa usia kita saat ini? Lalu, sudah berapa usia kita yang dicuri oleh waktu? Tahukah kamu bagaimana waktu mencuri usia manusia? Waktu mencuri usia manusia melalui angan-angan akan hari esok sehingga kita melupakan hari ini, terus berulang setiap harinya hingga usia kita habis. Saat kecil, kita ingin menjadi remaja. Saat remaja, kita ingin menjadi dewasa. Saat dewasa, kita ingin menikah dan berkeluarga. Saat berkeluarga, kita ingin melihat anak kita tumbuh dewasa. Dan kita sendiri telah menua. Di hari tua, kita ingin kembali ke masa muda, sementara senja sudah di depan mata.

"Kepemimpinan bukan keistimewaan, tetapi tanggung jawab. Ia bukan fasilitas, tetapi pengorbanan. Ia juga bukan leha-leha, tetapi kerja keras. Ia juga bukan kesewenang-wenangan bertindak, tetapi kewenangan melayani. Selanjutnya, kepemimpinan adalah keteladanan berbuat dan kepeloporan bertindak."
M. Quraish Shihab
"Orang yang senang menggunjing adalah orang yang miskin pengetahuan. Karena tidaklah ia miskin dalam pengetahuan sampai-sampai menjadikan keburukan orang lain sebagai bahan perbincangan."

Salah satu hobi kalau di Jogja: ngeliat montor mabur di Adisucipto.

"Kelak jika nanti kamu telah menemukan seseorang yang memperjuangkanmu, kamu harus berjuang untuk bisa bersamanya. Cinta itu harus diperjuangkan, bukan hanya menunggu."
Rizkita Lubis dalam Dari Prolog Hingga Epilog

Judul buku: Dari Prolog Hingga Epilog

Penulis: Rizkita Lubis

Jumlah halaman: vi + 423

Penerbit: Self-publishing

Satu kesimpulan yang bisa saya ambil dari membaca buku ini adalah cinta tidak selalu sederhana. Cinta seringkali memiliki kerumitannya tersendiri, baik itu para pelakunya, maupun lingkungan yang terbentuk di dalamnya. Rizkita Lubis mengemas kerumitan tersebut dalam lima cerita yang ada dengan suasana cinta yang kelam. 

Lihat saja, Maharani dan Jonny yang sama-sama menjadi korban dari sebuah pilihan; Raya dan Januar yang memiliki kesulitan dalam memahami isi hati; Shalu, Ayala, Febby, Willa, dan Juan yang terlibat cinta segibanyak; Kania yang terjebak dalam masa lalu; hingga Arkania yang berada dalam dilema di antara masa lalu dan masa depannya.

Rizkita menulis secara ringan, tetapi suram. Penulis mungkin saja ingin menunjukkan bahwa cinta tidak selalu putih suci, tetapi bisa saja bernoda, entah sedikit, entah banyak. Dan sesuram apapun suatu perjalanan cinta, ia akan menemukan jalannya menuju kesucian sebagai fitrahnya. Dan bahwa, “Kadang, menikah karena alasan cinta aja gak cukup.” (halaman 251)

Silakan hubungi penulis di jangantakut.tumblr.com jika ingin ikut membeli dan mengapresiasi buku ini.

"Ketika kita sudah bertemu orang yang tepat, semuanya akan terasa benar."
Rizkita Lubis