Al Bukhari meriwayatkan dari Qatadah, dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad SAW menceritakan peristiwa Isra’. Beliau berkata, “Ketika saya sedang berbaring di Hajar Aswad, tiba-tiba ada yang datang kepadaku. Salah seorang di antara mereka berbicara kepada yang di tengah, “Belahlah di antara ini dan ini.” Jarud bertanya, “Apa maksudnya?” Qatadah menjawab, “Antara bagian atas dadanya sampai paling bawah bagian perutnya.” Qatadah juga pernah berkata, “Di antara dadanya sampai bagian bawah perutnya.”

Rasulullah kemudian berkata, “Lalu dia mengeluarkan hatiku. Lalu didatangkan wadah yang terbuat dari emas yang dipenuhi dengan keimanan dan hikmah. Dia membersihkan hatiku dan menutupnya kembali. Setelah itu didatangkan kepadaku kendaraan yang tingginya di bawah Bighal, rendahnya di atas keledai, dan warnanya putih.” Jarud bertanya, “Apakah itu Buraq, wahai Abu Hamzah?” Dia menjawab, “Ya, langkahnya sejauh pandangannya.” Rasul berkata, “Aku menaikinya dan berangkat bersama Jibril, hingga sampai di langit dunia, lalu minta dibukakan. Kemudian kami ditanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Jibril.” Dia bertanya, “Bersama siapa?” Jibril menjawab, “Bersama Muhammad.” Dia bertanya lagi, “Apakah dia sudah diutus?” Jibril menjawab, “Ya.” Kemudian dia berkata, “Selamat datang! Sebaik-baik orang yang datang telah tiba.” Kemudian dia membukakan pintu kepada kami. Setelah kami masuk, tiba-tiba di sana ada Nabi Adam as. Jibril berkata, “Ini bapakmu, Adam. Ucapkan salam kepadanya.” Kemudian aku mengucapkan salam kepadanya. Lalu beliau menjawab salam kami. Beliau berkata, “Selamat datang kepada anak dan Nabi yang shaleh.”

Kami meneruskan perjalanan, naik ke langit kedua. Kami minta dibukakan. Penjaganya bertanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Jibril.” Dia bertanya, “Bersama siapa?” Jibril menjawab, “Bersama Muhammad.” Dia bertanya lagi, “Apakah dia sudah diutus?” Jibril menjawab, “Ya.” Kemudian dia berkata, “Selamat datang! Sebaik-baik orang yang datang telah tiba.” Setelah itu kami dibukakan pintu. Setelah kami masuk, ternyata ada Nabi Isa as dan Nabi Yahya as. Jibril berkata, “Mereka adalah Nabi Yahya dan Nabi Isa. Ucapkan salam kepada mereka.” Aku mengucapkan salam kepada mereka. Kemudian mereka menjawab salamku, “Selamat datang kepada saudara dan Nabi yang shaleh.”

Kemudian kami melanjutkan naik ke atas, menuju langit yang ketiga. Kami minta dibukakan. Penjaganya bertanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Jibril.” Dia bertanya, “Bersama siapa?” Jibril menjawab, “Bersama Muhammad.” Dia bertanya lagi, “Apakah dia sudah diutus?” Jibril menjawab, “Ya.” Kemudian dia berkata, “Selamat datang! Sebaik-baik orang yang datang telah tiba.” Setelah itu kami dibukakan pintu. Setelah kami masuk, ternyata ada Nabi Yusuf as. Jibril berkata, “Dia Nabi Yusuf.” Aku mengucapkan salam kepadanya. Kemudian beliau menjawab salamku, “Selamat datang kepada saudara dan Nabi yang shaleh.”

Kemudian kami melanjutkan naik ke atas, menuju langit yang keempat. Kami minta dibukakan. Penjaganya bertanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Jibril.” Dia bertanya, “Bersama siapa?” Jibril menjawab, “Bersama Muhammad.” Dia bertanya lagi, “Apakah dia sudah diutus?” Jibril menjawab, “Ya.” Kemudian dia berkata, “Selamat datang! Sebaik-baik orang yang datang telah tiba.” Setelah itu kami dibukakan pintu. Setelah kami masuk, ternyata ada Nabi Idris as. Jibril berkata, “Dia Nabi Idris.” Aku mengucapkan salam kepadanya dan beliau menjawabnya. Beliau berkata, “Selamat datang kepada saudara dan Nabi yang shaleh.”

Kemudian kami melanjutkan naik ke atas, menuju langit yang kelima. Kami minta dibukakan. Penjaganya bertanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Jibril.” Dia bertanya, “Bersama siapa?” Jibril menjawab, “Bersama Muhammad.” Dia bertanya lagi, “Apakah dia sudah diutus?” Jibril menjawab, “Ya.” Kemudian dia berkata, “Selamat datang! Sebaik-baik orang yang datang telah tiba.” Setelah itu kami dibukakan pintu. Setelah kami masuk, ternyata ada Nabi Harun as. Jibril berkata, “Dia Nabi Harun.” Aku mengucapkan salam kepadanya dan beliau menjawab, “Selamat datang kepada saudara dan Nabi yang shaleh.”

Kemudian kami melanjutkan naik ke atas, menuju langit yang keenam. Kami minta dibukakan. Penjaganya bertanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Jibril.” Dia bertanya, “Bersama siapa?” Jibril menjawab, “Bersama Muhammad.” Dia bertanya lagi, “Apakah dia sudah diutus?” Jibril menjawab, “Ya.” Kemudian dia berkata, “Selamat datang! Sebaik-baik orang yang datang telah tiba.” Setelah itu kami dibukakan pintu. Setelah kami masuk, ternyata ada Nabi Musa as. Jibril berkata, “Dia Nabi Musa.” Aku mengucapkan salam kepadanya dan beliau menjawabnya, “Selamat datang kepada saudara dan Nabi yang shaleh.” Ketika kami melewatinya, Nabi Musa menangis. Ditanya mengapa beliau menangis, Jibril menjawab bahwa dia menangis karena melihat umat Muhammad lebih banyak yang masuk surga daripada umatnya.

Kemudian kami melanjutkan naik ke atas, menuju langit yang ketujuh. Kami minta dibukakan. Penjaganya bertanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Jibril.” Dia bertanya, “Bersama siapa?” Jibril menjawab, “Bersama Muhammad.” Dia bertanya lagi, “Apakah dia sudah diutus?” Jibril menjawab, “Ya.” Kemudian dia berkata, “Selamat datang! Sebaik-baik orang yang datang telah tiba.” Setelah itu kami dibukakan pintu. Setelah kami masuk, ternyata ada Nabi Ibrahim as. Jibril berkata, “Dia Nabi Ibrahim.” Aku mengucapkan salam kepadanya dan beliau menjawabnya, “Selamat datang kepada saudara dan Nabi yang shaleh.”

Kemudian aku naik ke Sidratul Muntaha, yang tumbuh-tumbuhannya besar-besar. Daun-daunnya seperti telinga gajah. Jibril berkata, “Ini Sidratul Muntaha. Ia mempunyai sungai, dua sungai tidak tampak dan dua lagi tampak.” Aku berkata kepadanya, “Coba jelaskan lagi, wahai Jibril.” Jibril menjelaskan, “Dua sungai yang tidak tampak itu letaknya di surga. Sedangkan dua sungai yang tampak itu adalah Sungai Nil dan Eufrat.” Kemudian Rasulullah naik ke Baitul Makmur. Setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat memasukinya. Kemudian didatangkan kepadaku segelas khamr, segelas susu, dan segelas madu, dan aku mengambil susunya. Jibril berkata, “Itu adalah pilihan engkau dan umatmu.” Setelah itu diwajibkan kepadaku lima puluh shalat setiap harinya. Setelah itu aku kembali dan bertemu Nabi Musa. Beliau bertanya kepadaku, “Apa yang diperintahkan kepadamu?” Aku menjawab, “Saya diperintahkan shalat lima puluh kali setiap hari.” Beliau berkata, “Umatmu tidak akan mampu melaksanakan shalat lima puluh kali dalam sehari. Saya sudah menerapkannya kepada umat sebelum kamu, dan aku paksakan kepada Bani Israel. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah pengurangan demi umatmu.” Aku kembali dan mendapatkan keringanan sepuluh. Aku kembali ke Nabi Musa, dan beliau mengatakan seperti sebelumnya. Kemudian aku kembali dan mendapatkan keringanan sepuluh. Aku kembali dan lagi-lagi beliau menyuruhku kembali untuk memohon keringanan. Aku mendapatkan sepuluh keringanan lagi. Hingga aku diperintahkan melaksanakan shalat sepuluh kali dalam sehari. Namun setelah kembali ke Nabi Musa, beliau lagi-lagi meminta aku melakukan seperti sebelumnya, hingga aku diperintahkan melaksanakan shalat lima kali dalam sehari. Kemudian aku kembali kepada Nabi Musa, beliau bertanya, “Dengan apa engkau diperintah?” Aku menjawab, “Saya diperintahkan shalat lima kali dalam sehari.” Beliau berkata, “Umatmu tidak akan mampu melaksanakan shalat lima kali sehari, dan saya sudah mencoba menerapkannya kepada umat sebelum kamu, dan memaksakannya kepada Bani Israel. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan demi umatmu.” Aku menjawab, “Saya sudah memohon kepada-Nya sampai saya malu. Akan tetapi saya rela dan pasrah.” Setelah Rasulullah melewati Musa, terdengar suara memanggil, “Kewajibanku telah engkau bawa dan ibadahku telah engkau ringankan.”

"Ada empat macam manusia. Pertama, orang yang tahu dan tahu bahwa dia tahu. Orang seperti ini disebut alim (berpengetahuan), maka ikutilah. Kedua, orang yang tahu dan tidak tahu bahwa dia tahu. Orang seperti ini sedang tidur, maka bangunkanlah. Ketiga, orang yang tidak tahu dan tahu bahwa dia tidak tahu. Orang seperti ini adalah orang yang minta petunjuk, maka tunjukilah. Keempat, orang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Orang seperti ini disebut bodoh, maka cegahlah."
Al-Khalil bin Ahmad
"Pernah sekali saya tidak shalat berjamaah, lalu Abu Ishaq Al-Bukhari menta’ziyahi (menjenguk) saya. Seandainya anak saya meninggal, maka lebih dari sepuluh ribu orang menta’ziyahinya, karena bagi mereka musibah agama lebih ringan dari musibah dunia."
Hatim Al-Asham
"Ilmu dicari oleh seseorang berdasarkan motivasi dan keinginannya, maka yang sombong menjadi tambah sombong, yang rendah hati tambah rendah hati."
Wahb ra

Suatu ketika ada seorang shaleh yang melewati batu kecil yang mengeluarkan air terus-menerus. Orang shaleh itu heran melihatnya. Allah kemudian menjadikan batu itu dapat berbicara. Kata batu itu, “Sejak aku mendengar QS. At Tahrim ayat 6 dan QS. Al Baqarah ayat 24, aku selalu menangis karena takut kepada-Nya.” Mendengarnya, orang shaleh tersebut menjadi ikut menangis bersama batu tersebut.

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (QS. At Tharim: 6)
"…peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir." (QS. Al Baqarah: 24)

Orang shaleh itu kemudian berdoa agar ia dan batu itu diselamatkan dari api neraka. Dan Allah mengabulkan doanya.

Dan semoga Allah juga mengabulkan doa kita jika kita berdoa hal yang sama.

"Jika kamu anggap dirimu adalah seorang yang tekun beribadah, berpuasa, dan selalu bangun di malam hari, kamu harus sadar bahwa terkadang kamu juga membicarakan keburukan orang lain, dan hal itu bisa menguras habis amal kebaikanmu."
Imam Al-Ghazali dalam Tahdzib Mukaasyafah al-Quluub
"Apakah kalian tidak malu, membangun (rumah) yang tidak kalian tempati, berandai-andai sesuatu yang tidak akan bisa kalian raih, mengumpulkan sesuatu yang tidak kalian makan. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah membangun lebih besar lagi, mengumpulkan lebih banyak lagi, berandai-andai lebih jauh lagi, tetapi rumah-rumah mereka telah menjadi kuburan, mimpi mereka hanyalah impian, dan harta mereka menjadi tiada."
Abu Darda’ ra
"Manusia mengatakan tiga hal tetapi mereka tidak konsisten terhadapnya: (1) Mereka berkata bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah, tapi mereka melakukan perbuatan seakan mereka adalah orang-orang merdeka, (2) Mereka mengatakan bahwa Allah mencukupi dan menanggung rezeki mereka, tetapi hati mereka tidak tenang memikirkan dunia. (3) Mereka mengatakan bahwa mereka akan mati, tetapi mereka berbuat seakan-akan mereka tidak akan mati."
Syaqiq al-Balkhi

Ghibah adalah berbicara mengenai saudara kita tentang hal-hal yang tidak dia suka, meskipun itu benar. Suatu ketika Aisyah ra berkata mengenai seorang perempuan pendek, “Pendek sekali wanita itu!” Rasulullah berkata, “Kamu telah melakukan ghibah kepadanya, wahai Aisyah.” QS. Al Hujurat ayat 12 menggambarkan para pengghibah sebagai pemakan bangkai. Ghibah di masa Rasulullah masih bisa dibedakan karena jumlahnya sedikit. Tantangan di masa sekarang adalah ghibah berada di mana-mana sehingga kita menjadi sulit membedakan mana bau harum, mana bau bangkai. Lagipula kadang kita lupa, bangkai terbusuk sekalipun bisa dibuat harum juga.

"Syaithan memperkuat dirinya dengan hawa nafsu dan segala hasrat yang ada di dalamnya. Jangan sampai engkau tergoda dengan keinginan-keinginan nafsumu. Salah satu bentuk dan karakter nafsu adalah rasa aman, lalai, kesenangan, kekosongan waktu, dan kemalasan."
Imam Al-Ghazali dalam Tahdzib Mukaasyafah al-Quluub

Selamat Idul Adha dari Dompu!

"Kita tidak lain adalah tamu, dengan harta sebagai pinjaman. Seorang tamu suatu saat harus pulang, dan pinjaman harus dikembalikan."

Saya tidak pernah menyangka bahwa interaksi saya dengan anak-anak akan menjadi begitu intensnya. Diawali perkenalan saya dengan F, seorang anak yang sering sekali datang ke rumah sakit (saya akan cerita soal F lain waktu), saya kemudian menginisiasi program kebahagiaan. Kebahagiaan untuk anak-anak tentunya. Anak-anak di Dompu.

Di Dompu, toko buku hanya ada satu. Bentuknya pun sederhana, seperti warung dekat rumah kalau di Jakarta. Jadi, akses terhadap buku begitu terbatas. Saya jadi ingat ketika kecil dulu, akses saya terhadap bacaan begitu mudah. Ibu saya membelikan saya Bobo dan bacaan anak-anak lainnya setiap minggu. Di Jakarta, buku bisa didapatkan di mana-mana. Di Dompu, buku tidak bisa didapatkan di mana-mana. Padahal, bahan bacaan (dan mainan!) adalah komponen penting untuk perkembangan anak. Anak bisa berimajinasi, berpikir, bertanya, memiliki sikap kritis, bersosialisasi, melalui buku bacaan dan mainan. Untuk itu, beberapa bulan yang lalu saya dan teman-teman menerima kiriman buku dan mainan anak dari teman-teman di Pulau Jawa dalam sebuah gerakan yang saya namakan Dokter Internship Peduli Anak-Anak Dompu. Setelah gerakan itu dipublikasikan, tanggapannya positif, beberapa teman mengirimkan buku bacaan anak dan mainan kepada saya.

Gerakan ini dimulai dari lingkungan terdekat. F adalah penerima pertama manfaat gerakan ini. Dia mendapat tas, buku gambar, buku bacaan, mainan, dan pensil warna. Bisa dilihat melalui foto di bawah betapa bahagianya dia menerima itu semua. Setelah memiliki buku dan mainan itu, setiap hari dia datang ke IGD untuk mewarnai dan minta diajarkan membaca. Penerima kedua adalah A, seorang anak yang cukup sering juga datang ke IGD. Ia menerima banyak buku dan crayon untuk mewarnai. Di foto bawah ini, Oknum N tampak lebih bahagia daripada A. Tapi sesungguhnya, kebahagiaan A tidak terkira menerima buku-buku gambar dan cerita. Selain itu, kami juga membagikan buku-buku kepada anak-anak dari para perawat di rumah sakit.

image

image

image

Lalu kami berlanjut ke lingkungan rumah sakit. Saya dan teman-teman mengunjungi bangsal perawatan dan mencari tahu jika ada pasien anak yang sesuai dengan buku dan mainan yang akan diberikan. Kami mendapatkan beberapa. Buku dan mainan tersebut menjadi teman mereka selagi mereka dirawat di rumah sakit.

image

image

Kemudian, lingkungan sekitar rumah sakit juga tidak luput menjadi perhatian saya dan teman-teman. Kami bagikan secara cuma-cuma buku anak dan mainan kepada anak-anak dari para pedagang kecil di sekitar rumah sakit. Di waktu luangnya, anak-anak ini sibuk bekerja membantu orangtuanya. Buku dan mainan tentunya menjadi sumber kebahagiaan yang besar bagi mereka. Foto di bawah ini, Oknum A bersama anak-anak para pedagang.

image

Terakhir, kami menyumbangan dalam skala yang lebih luas lagi, yaitu institusi pendidikan anak-anak. Kami memilih TK Islam Terpadu Al Hilmy. Meskipun merupakan salah satu TK terbaik di Dompu, tetapi kondisi fisik bangunan masih memprihatinkan. Kami memberikan ensiklopedia anak dan beberapa buku latihan membaca dan menggambar di sana. Di sela-sela acara, saya juga menyempatkan diri membacakan dongeng tentang Nabi Musa kepada anak-anak di sana.

image

Melalui tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu mengirimkan buku dan mainan kepada kami. Saya tidak menyebutkan nama para donatur karena sebagian meminta untuk dirahasiakan identitasnya. Gerakan yang saya dan teman-teman lakukan adalah gerakan yang kecil dan bisa dilakukan oleh siapa saja dalam bentuk apa saja. Semoga siapapun yang memiliki kesempatan tinggal di daerah terpencil bisa terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Karena Indonesia, tidak hanya ibukota.

Mulai kurikulum berbasis kompetensi, anak FK, setelah dilantik jadi dokter, pasti akan mengalami masa abu-abu bernama internship, yaitu bertugas di puskesmas dan rumah sakit daerah di bawah supervisi seorang dokter umum. Masalahnya adalah dalam setahun, akan ada banyak waktu luang yang dimiliki oleh seorang dokter internship, yang kalau ga dimanfaatkan akan terbuang sia-sia. Memang ada tugas yang harus dilakukan dokter internship di samping tugas rutin harian, yaitu mengumpulkan 400 kasus, membuat laporan kasus, dan mini project. Tapi percayalah, semuanya bisa diselesaikan dalam waktu beberapa bulan saja. Untuk itu, menyambut akan berakhirnya masa internship saya di Dompu, berikut saya berikan bocoran hal-hal apa aja yang bisa kamu lakukan selagi kamu menghitung bulan menuju selesainya internship.

1. Belajar bahasa daerah

Ini penting banget, apalagi yang internshipnya di daerah antah berantah. Seperti saya, misalnya. Saya lahir dan besar di Jakarta dan bahasa daerah hanya bisa bahasa jawa pasif, tapi dapet internshipnya di Dompu, yang bahasa sehari-harinya adalah bahasa Mbojo. Jadi ga jarang saya kesulitan dalam komunikasi dengan pasien dan ujung-ujungnya minta bantuan perawat sebagai penerjemah. Teman-teman saya, setelah ditempa secara otodidak selama hampir setahun, sudah jago-jago bahasa Mbojonya, mulai dari bahasa sehari-hari tentang keluhan pasien, sampai bahasa kasar dan slang-nya.

2. Belajar masak

Ini dilakukan terutama sama cewek-cewek. Untungnya adalah cewek masaknya banyak, tapi makannya dikit. Kalau kita yang cowok-cowok sih senang, kerjaannya tinggal nyicipin hasil masakannya. Nyicipin sampe habis.

3. Apply Beasiswa

Buat yang mau sekolah lagi, bisa apply beragam penawaran beasiswa yang berserakan di luar sana. Tips dari saya adalah siapkan legalisir ijazah dan transkrip nilai yang banyak sebelum internship, juga jangan lupa tes toefl/ielts. Keputusan ikut tes toefl sebelum internship adalah keputusan yang selalu saya syukuri.

4. Ikut Pelatihan/Seminar/Workshop

Selagi waktu memungkinkan (apalagi gratis), ikuti pelatihan sebanyak-banyaknya. Mumpung lagi idle kan. Misalnya pas ke Jakarta bulan lalu, saya ikut ACLS dan ATLS dalam waktu yang berdekatan. Juga di awal tahun ini, saya sempat ikut pelatihan seminggu soal Global Health di Makassar. Gratis, dapet ilmu, dapet kenalan, dapet pengalaman, dapet uang saku pula. PS: Teman-teman saya lainnya lebih gila lagi, ikut acara ilmiah mulai skala lokal, nasional, sampai internasional (seperti Oknum W yang ke Jepang).

5. Jalan-Jalan

Ini ga boleh ketinggalan. Mumpung banyak waktu luang dan masih muda. Apalagi kalau lokasi internship kamu deket sama tempat wisata yang oke. Oknum A, teman internship saya di Dompu, udah menjelajah Flores dari Kelimutu di Ende sampai Labuan Bajo dan Komodo. Atau Oknum D yang internship di Tarakan, bertualang ke Derawan. Kalau lokasi internship kamu ga deket lokasi wisata apapun, coba cari tau lokasi wisata lokal yang belum diketahui banyak orang (baca majalah Tempo edisi khusus 100 surga tersembunyi). Kayak saya misalnya beberapa waktu yang lalu ke Pulau Nisa Pudu yang bagus banget banget dan masih virgin karena belum banyak yang tau. Setelah itu, dengan bantuan Oknum K, teman yang juga wartawan, saya sebarkan pesona Pulau Nisa Pudu ini di tabloidnya. Ujung-ujungnya jadi ikut mendorong ekonomi pariwisata di tempat itu kan.

6. Melakukan Kegiatan Sosial

Bentuknya bisa apa aja, sesuai kebutuhan daerah internship kamu. Misalnya Dompu yang merupakan daerah tertinggal, akses terhadap buku di sini sulit sekali. Makanya saya dan teman-teman sewahana membuat gerakan peduli anak-anak Dompu dengan menampung buku dan mainan anak kiriman teman-teman di Pulau Jawa untuk disalurkan ke anak-anak di sini. Kita juga bikin buka puasa bersama anak-anak yatim di Dompu. Semuanya murni inisiatif dokter internship loh.

7. Bersahabat dengan penduduk lokal

Di Dompu saya bersahabat dengan Oknum D, tukang buah depan RS; dan Oknum A, tetangga dan jamaah satu masjid. Punya sahabat lokal menurut saya penting karena kita kan menumpang di daerah orang lain, jadi pasti akan butuh banyak bantuan selama setahun ke depan. Misalnya saja, dari mereka saya sering mendapat bantuan kiriman makanan, bisa minta tolong dianterin ke suatu tempat, sampai bisa membeli madu kualitas oke dengan harga murah (Dompu/Sumbawa terkenal akan madunya).

8. Mengajar

Ini ga semua orang suka ya. Tapi, kalau saya pada dasarnya suka ngajar dan emang udah sering ngajar dari kecil. Kebetulan pas internship ini, saya ada kesempatan ngajar di sebuah STIKES di Dompu sebagai dosen tidak tetap untuk mata kuliah anatomi. Di IGD pun, sambil tugas jaga, saya dan teman-teman suka ngajar membaca dan berhitung ke anak kecil yang tinggal di sekitar RS.

9. Nyicipin berbagai makanan lokal

Ini buat yang suka makan ya. Sayangnya saya orangnya picky eater. Oknum S yang suka makan, jadi punya banyak referensi makanan lokal karena internship di Dompu. Saya juga nemu warung penjual nasi kuning terenak di dunia ya karena internship di Dompu ini.

10. Mengenal budaya lokal

Caranya bisa dengan berpartisipasi aktif kalau ada kegiatan budaya. Di Dompu, misalnya, suka ada arak-arakan budaya di jalan. Hampir tiap bulan selalu ada kayaknya. Kita bisa sekedar nonton, atau kayak Oknum R yang sempat ikut jadi peserta arak-arakan juga. Pas kegiatan pelatihan di Makassar, ada gala dinner yang mewajibkan peserta memakai baju adat asal daerahnya masing-masing. Meskipun bukan orang Dompu, saya akhirnya memutuskan memakai baju adat Dompu. Kapan lagi coba memperkenalkan budaya Dompu ke orang banyak.

11. Mengasah hobi

Buat yang cowok-cowok bisa bikin tim futsal dan tanding dengan tim lokal. Atau sepedaan seperti saya. Saya pernah sepedaan bareng-bareng melintasi Dompu selama 3 jam menuju pantai (dan itu menyenangkan!). Atau menulis (dalam masa internship, saya sempat menyelesaikan satu naskah dan satu draft tulisan). Atau merajut, seperti yang dilakukan Oknum D.

Selain poin-poin di atas sebenernya masih banyak hal yang bisa kita lakukan selama internship, seperti melakukan penelitian (Oknum F kabarnya sih begini *tersenyum datar*), ngabisin baca banyak buku, mencari penghasilan tambahan (misalnya Oknum N yang jadi tim medis pekan olahraga tingkat provinsi), melamar kerja (misalnya ikut CPNS), menikah (seperti Oknum M), dan sebagainya. Apakah mungkin dilakukan semua? Mungkin banget kok. Setahun itu lamaaa dan waktu yang kita miliki itu banyaaak. Tapi ya lakukanlah kegiatan yang kamu suka dan memang mungkin untuk dilakukan. Jangan menikah kalau belum ada calonnya, misalnya. :))

"Memang tidak ada kata terlambat untuk memulai traveling, tapi kalau boleh saya kasih saran, traveling-lah selagi muda! Kalau bisa saya sarankan lagi, traveling-lah selagi single!"
Trinity dalam The Naked Traveler 1 Year Round-The-World Trip